Dasar Telekomunikasi
MAKALAH
SERAT OPTIK (FIBER OPTIC)
KATA
PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesai makalah tentang
Serat Optik.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat mempelancar dalam pembuatannya. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan
tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami
dapat memperbaiki makalah Serat Optik ini.
Akhir
kata kami berharap semoga makalah tentang Serat Optik dan manfaatnya untuk
masyarakat dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Daftar Isi
BAB1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Pengertian Serat Optik
2. Jenis-jenis Serat Optik
a. Step Indeks Multimode
b. Grade Indeks Multimode
c. Step Indeks Singlemode
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kabel Serat Optik
v Mengapa
cahaya dapat terkurung di dalam Serat Optik ?
v Pembiasan
v Satuan
v Hukum
Snellius
v Sudut
Kritis
v Propagasi
cahaya di dalam serat optic
3.
Sejarah Serat Optik
4.
Karakteristik Serat Optik
5. Kelebihan dan kekurangan Serat
Optik
A.
Kelebihan Serat Optik
B.
Kekurangan Serat Optik
BAB 3
PENUTUP
1. Kesimpulan
2. Saran
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Beberapa
tahun ini, perkembangan teknologi serat optik mengalami peningkatan yang cukup
pesat. Teknologi ini tidak hanya digunakan dalam bidang telekomunikasi saja,
melainkan banyak bidang yang telah menggunakan teknologi ini. Secara umum,
kegunaan media transmisi ini adalah menjadi alat dalam berkomunikasi dari satu
tempat ke tempat yang lain.
Kelebihan
dari alat transmisi ini adalah mampu mentransmisikan data yang besar serta yang
berkeceptan tinggi. Salah satu yang paling penting dalam dunia telekomunikasi
adalah menyediakan media komunikasi dengan baik pelayanannya.
2. Rumusan
Masalah
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Pengertian Serat Optik
2. Jenis-jenis Serat Optik
Dengan
sistem serat optik maka dapat meminimalisir rugi daya yang terjadi. Hal ini
terpengaruh dengan jarak maksimum yang diperbolehkan antara transmiter dan receivernya.
Salah satu yang sering terjadi masalah pada serat optik adalah karena keadaan
kotor pada bagian fibernya. Itu terjadi karena ada zat yang masuk kedalam
serat, mungkin karena pembungkusnya sudah rusak ataupun pada saat pemasangan
ada kotoran yang masuk.
Dengan
adanya transmiter serat optik ini diharapkan peningkatan kualitas telekomunikasi
di Indonesia bisa lebih baik lagi
karena dengan memakai serat optik sangat minimal sekali pada kendala ataupun
kerugian yang terjadi.
2. Rumusan
Masalah
Dengan latar belakang diatas kita
mempunyai rumusan masalah seperti berikut :
1. Bagaimana
Pengertian Serat Optik?
2. Bagaimana
Jenis-jenis Serat Optik?
3. Bagaimana
Sejarah Serat Optik?
4. Bagaimana
Karakteristik Serat Optik?
5. Bagaimana
Kelebihan Kekurangan Serat Optik?
3. Tujuan
1. Mengetahui
Pengertian Serat Optik?
2. Mengetahui
Jenis-jenis Serat Optik?
3. Mengetahui
Sejarah Serat Optik?
4. Mengetahui
Karakteristik Serat Optik?
5. Mengetahui
Kelebihan dan Kekurangan Serat Optik?
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Pengertian Serat Optik
Serat optik adalah
sebagian kecil dari perjalanan sejarah penemuan manusia yang seolah tanpa
batas. Kini manusia tidak hanya berhasil menangkap petir tetapi juga
mengendalikan cahaya. Ini dapat terlaksanakan dengan serat optik sebagai kunci
lalu lintas informasi, tidak salah jika dikatakan, inilah kunci kekuasaan masa
depan.
Kemudian ada yang mencoba mentramisikan cahaya dengan rangkaian lensa sebagai
pemandu cahaya, lalu rangkaian cermin, kemudian gas, sebelum tiba sistem
pemandu gelombang serat optik yang sekarang.
Sekitar tahun 1959, orang menemukan laser dan terjadilah terobosan besar.
Gelombang yang sudah masuk dalam spektrum cahaya ini berfrekuensi sangat
tinggi. Pada awalnya peralatan penghasil sinar menggunakan lensa yang masih
serba besar dan merepotkan. Selain tidak efesien, ia baru dapat berfungsi pada
suhu sangat rendah. Lensa juga belum terpancar lurus ( Hessty P.Utami, Mengenal cahaya dan optic, seri
sains, 2005, hlm 3-4).
2. Jenis-jenis Serat Optik
a. Step Indeks
Multimode
Serat optik berdiameter core agak besar yang membuat laser di dalamnya akan dipantul- pantulkan ke dinding cladding yang dapat menyebabkan berkurangnya bandwidth. Ciri-ciri ukuran inti sekitar 50 mm - 125 mm, diameter cladding 125 mm - 500 mm. Diameter core besar untuk penyambungan yang mudah, baik digunakan untuk transmisi kecepatan rendah dan jarak tempuh yang pendek. Keuntungan : mudah dibuat, serat optik pertama dipasarkan core tebal, mudah dalam penyambungan. Kerugian : terjadi dispersi jarak tempuh yang pendek dan transmisi yang berkecepatan rendah.
Serat optik berdiameter core agak besar yang membuat laser di dalamnya akan dipantul- pantulkan ke dinding cladding yang dapat menyebabkan berkurangnya bandwidth. Ciri-ciri ukuran inti sekitar 50 mm - 125 mm, diameter cladding 125 mm - 500 mm. Diameter core besar untuk penyambungan yang mudah, baik digunakan untuk transmisi kecepatan rendah dan jarak tempuh yang pendek. Keuntungan : mudah dibuat, serat optik pertama dipasarkan core tebal, mudah dalam penyambungan. Kerugian : terjadi dispersi jarak tempuh yang pendek dan transmisi yang berkecepatan rendah.
Gambar gelombang step indeks multimod e :
b. Grade Indeks Multimode
Serat optik dengan diameter
core yang besar dan mempunyai cladding yang bertingkat indeks biasnya
sehingga dapat menambah bandwidth jika dibandingkan dengan
Step-index multimode. Ciri-ciri : Diameter
core 30-60 mm, claddingnya 100-150 mm. Penggabungan kabel fiber multimode dan
singlemode, Transmisi jarak 10-20 km seperti pada LAN. Kerugian : sukar dalam
pembuatannya dan harga mahal.
Gambar
gelombang Grade Indeks Multimode :
c.
Step Indeks Singlemode
Serat
optik dengan core yang sangat kecil, diameternya mendekati panjang
gelombang sehingga cahaya yang masuk ke dalamnya tidak dipantul-pantulkan ke
dinding cladding. Ciri-ciri : Diameter core sangat kecil. Digunakan untuk
transmisi jarak jauh (>120km), bandwidth besar, kecepatan tinggi,
penyusutan transmisi kecil. Hanya terdapat 1 berkas
cahaya yang dapat melewatinya. Tidak ada dispersi dan tidak ada pengaruh indeks
bias. Keuntungan : Bandwidth besar, jarak tempuh
lebih panjang.
Serat ini menggunakan
cahaya sebagai media komunikasi yaitu data dibawa oleh cahaya dan untuk
menyalurkannya diperlukan suatu jenis kabel yang khusus disebut serat optik. Serat optik terdiri atas inti yang
terbuat dari kaca tipis berkualitas baik (indeks bias besar) dan dilapisi oleh
lapisan kaca sangat tipis (cladding) dengan indeks bias sedikit
lebih kecil.
Sumber
cahaya yang digunakan bisa berupa LED (Light Emitting Diode) ataupun
laser (ILD = Injected Laser Diode) sedangkan detektor cahaya
dapat berupa foto diode atau foto transistor yang berfungsi mengubah cahaya
menjadi sinyal listrik.
Sudut kritis adalah sudut yang menghasilkan sudut bias sebesar 90°, andaikan
indeks bias inti kaca dan lapisan kaca masing-masing (II Snellius).
Sudut penerimaan pada serat optic
adalah sudut datang maksimum dari medium di luar serat optik yang akan menghasilkan
pemantulan sempurna dalam inti sepanjang kabel.
Kode warna pada kabel serat optik
Selubung luar
Dalam standarisasinya kode warna dari
selubung luar (jacket) kabel serat optik jenis Patch Cord adalah
sebagai berikut:
Warna selubung
luar/jacket
|
Artinya
|
Kuning
|
Serat optik single-mode
|
Jingga
|
Serat optik multi-mode
|
Aqua
|
Optimal laser 10 giga 50/125 mikrometer serat optik multi-mode
|
Abu-Abu
|
Kode warna serat optik multi-mode, yang tidak digunakan lagi
|
Biru
|
Kadang masih digunakan dalam model perancangan
|
Konektor
Pada kabel serat optik, sambungan ujung
terminal atau disebut juga konektor, biasanya memiliki tipe standar seperti
berikut:
1. FC (Fiber Connector): digunakan untuk kabel single
mode dengan akurasi yang sangat tinggi dalam menghubungkan kabel dengan
transmitter maupun receiver. Konektor ini menggunakan sistem drat ulir dengan
posisi yang dapat diatur, sehingga ketika dipasangkan ke perangkat lain,
akurasinya tidak akan mudah berubah.
2. SC (Subsciber Connector): digunakan untuk kabel single
mode, dengan sistem dicabut-pasang. Konektor ini tidak terlalu mahal, simpel,
dan dapat diatur secara manual serta akurasinya baik bila dipasangkan ke
perangkat lain.
3. ST (Straight Tip): bentuknya seperti bayonet berkunci
hampir mirip dengan konektor BNC. Sangat umum digunakan baik untuk kabel multi
mode maupun single mode. Sangat mudah digunakan baik dipasang maupun dicabut.
4. Biconic: Salah satu konektor yang kali pertama muncul
dalam komunikasi fiber optik. Saat ini sangat jarang digunakan.
5. D4: konektor ini hampir mirip dengan FC hanya berbeda
ukurannya saja. Perbedaannya sekitar 2 mm pada bagian ferrule-nya.
6. SMA: konektor ini merupakan pendahulu dari konektor ST
yang sama-sama menggunakan penutup dan pelindung. Namun seiring dengan
berkembangnya ST konektor, maka konektor ini sudah tidak berkembang lagi
penggunaannya.
7. E200
Selanjutnya jenis-jenis konektor tipe
kecil:
1. LC
2. SMU
3. SC-DC
Selain itu pada konektor tersebut biasanya
menggunakan warna tertentu dengan maksud sebagai berikut:
Warna Konektor
|
Arti
|
Keterangan
|
|
Biru
|
Physical Contact (PC), 0°
|
yang paling umum digunkan untuk serat optik single-mode.
|
|
Hijau
|
Angle Polished (APC), 8°
|
sudah tidak digunakan lagi untuk serat optik multi-mode
|
|
Hitam
|
Physical Contact (PC), 0°
|
||
Abu-abu,
|
Krem
|
Physical Contact (PC), 0°
|
serat optik multi-mode
|
Putih
|
Physical Contact (PC), 0°
|
||
Merah
|
Penggunaan khusus
|
||
Beberapa keunggulan serat optik sebagai media transmisi di bandingkan dengan
kabel pasangan terpilih dan kabel koaksial adalah sebagai berikut :
v Bandwidth yang lebih besar : laju
data sebesar 2 Gbps dengan jarak 10 km dapat dicapai. Gelombang cahaya memiliki
frekuensi yang lebih tinggi dari pada arus listrik atau gelombang radio sebagai
pembawa sinyal sehingga laju data menjadi lebih tinggi dari pada arus listrik
atau gelombang radio sebagai pembawa sinyal sehingga laju data menjadi lebih
tinggi
v Ukuran yang lebih kecil dan berat
yang lebih ringan
v Pelemahan sinyal yang lebih rendah.
v Diisolasi terhadap elektromaknetik
sehingga tidak mudah terkena interferensi dan elektromagnetik eksternal
v Jarak antar-repeater (pengulang) yang
lebih jauh. Sistem transmisi dan fiber optik di Jerman dapat mencapai laju data
5 Gbps dengan jarak 111 km tanpa repeater. Sistem memerlukan lebih sedikit
repeater sehingga pada gilirannya ini akan mengurangi biaya pemeliharaan.
Jaringan optik juga akan meningkatkan kehandalan sistem komunikasi karena
repeater termasuk salah satu sumber yang umum di jumpai berkaitan dengan
kegagalan jaringan.
Mengapa cahaya
dapat terkurung di dalam Serat Optik ?
Pembiasan
Bayangkanlah
cahaya keluar dari sebuah senter yang menyala. Gelombang-gelombang senter menyebar
di dalam berkas sinarnya. Jika kita dapat melihat gelombang-gelombang tersebut,
pada jarak yang semakin jauh dari lampu senter (sumber cahaya), muka gelombang
akan tampak semakin mendekati sebuah garis lurus.
Satuan
Bayangkanlah cahaya keluar dari sebuah senter yang
menyala. Gelombang-gelombang senter menyebar di dalam berkas sinarnya. Jika
kita dapat melihat gelombang-gelombang tersebut, pada jarak yang semakin jauh
dari lampu senter (sumber cahaya), muka gelombang akan tampak semakin mendekati
sebuah garis lurus.
Karena indeks bias sebenarnya merupakan nilai
perbandingan (rasio) antara kecepatan cahaya di dalam ruang hampa terhadap
kecepatan cahaya di dalam bahan maka besaran indeks bias tidak memiliki satuan.
Dengan menggunakan indeks bias sebesar 1,5 sebagai
contoh, kita dapat menghitung bahwa cahaya akan
merabat dengan kecepatan sekitar 200 juta meter per
detik di dalam bahan yang memiliki indeks bias senilai itu. Dengan indeks bias berperan sebagai faktor pembagi dalam
menentukan kecepatan cahaya di dalam suatu bahan, hal ini berarti bahwa semakin
rendah nilai indeks bias maka semakin tinggi kecepatan cahaya di dalam bahan
terkait.
Hukum
Snellius
Sudut atau
arah perambatan sinar cahaya di ukur dengan mengacu ke garis normal/bidang
perbatasan antar kedua bahan. Garis normal adalah sebuah garis yang mengarah
tegak lurus terhadap permukaan bidang perbatasan antara kedua bahan, garis normal adalah sebuah garis
yang mengarah tegak lurus terhadap permukaan bidang perbatasan. Sudut yang dibentuk oleh arah sinar datang ke bidang
perbatsan (terhadap garis normal) dan sudut yang di bentuk oleh arah sinar
meninggalkan bidang perbatasan (terhadap garis normal) secara berturut-turut di
sebut sebagai sudut datang dan sudut bias sinar cahaya.
Sudut Kritis
Kita telah mengetahui dari sub bab sebelumnya bahwa
sudut perambatan sinar cahaya akan bertambah jika sinar memasuki sebuah bahan
dengan indeks bias yang lebih kecil.
Jika sudut datang sinar (didalam bahan pertama) menuju
bidang perbatasan terus diperbesar, akan tercapai
suatu titik di mana sudut bias menjadi bernilai 90° dan sinar akan merapat sejajar dengan bidang perbatasan di
dalam bahan kedua. Sudut datang yang menyebabkan terjadinya hal ini disebut
sebagai sudut kritis.
Propagasi
cahaya di dalam serat optik
Diatas
kita telah mengetahui bahwa cahaya yang merambat didalam serat optik menuju
dindingnya (bidang perbatasan) akan terpantul kembali kedalam serat optik jika
sudut datangnya lebih besar dari sudut kritis. Dengan cara ini cahaya dapat
merambat didalam serat optik melalui serangkaian pemantulan, seperti di ilustrasikan gambar berikut :
Tiga hal penting yang harus di ingat
:
·
Serat
optik sepenuhnya padat, tidak terdapat lubang atau rongga apapun di bagian
tengahnya
·
Buffer
dan jaket berfungsi sebagai pelindung mekanis
·
Cahaya
merambat didalam bagian inti meskipun terdapat pula sedikit rembesan yang masuk
kebagian mantel sehingga kejernihan bahan juga harus diperhatikan
Lalu mengapa cahaya dapat merembas masuk kedalam lapisan mantel?
Apa bila sudut datang sinar lebih besar dari sudut kritis maka sinar akan dipantulkan
balik kedalam bahan pertama melalui proses yang telah kita kenal sebagai
pemantulan internal sempurna (TIR).
Memasukan cahaya
kedalam serat optik
Ketika kita menyinari salah satu ujung serat optik dengan cahaya, maka sinar
tersebut akan terpancar dari ujung yang lain.
Kita dapan melihat caya menyebar keluar dari ujung
output serta optik (yaitu ujung yang tidak disinari) dan kita bahkan dapat
menghitung sudut penyebaran ini dengan menggunakan hukum Snellius. Beginilah
ceritanya sinar yang masuk kedalam serat optik merambat di sepanjang serat
dengan sudut datang (atau sudut pantul) yang sama dengan sudut kritis.
Aperture Numerik (NA)
Aperture numeric dari sebuah serat optik adalah parameter
yang mengukur kemampuan serat optik untuk mengumpulkan atau memerangkap cahaya.
Kita telah melihat sebelumnya penerima juga
mengindikasikan seberapa banyaknya cahaya yang dapat diterima kedalam serat
optik sehingga seharusnya terdapat suatu hubungan yang jelas dan mudah di
antara aperture numerik dan sudut penerimaan karena kedua besaran ini mengukur
dua hal yang pada dasarnya sama.
Beberapa catatan penghitungan :
v Pembulatan yang dilakukan pada
penghitungan di atas menimbulkan sedikit galat pada nilai sudut penerimaan yang
dihasilkan namum tidak dapat diabaikan
v Arcsin sering juga dituliskan sebagai
sin-1 didalam banyak buku text
Nama beragam sinar
didalam serat optik :
Kita telah mengetahui bahwa hanya
sinar-sinar yang masuk ke serat optik dengan sudut datang didalam kerucut
penerimaan saja akan dapat merambat hingga mencapai ujung serat.
Sudut
datang sinar dan posisi dimana sinar pertama kali mengenai bahan inti
menentukan secara speksitif jalur yang akan di lalui oleh sinar untuk hal ini terdapat tiga
kemungkinan :
jalur terpancung (skew), jalur meridional dan jalur eksial (poros) setiap
bentuk sumber cahaya praktis (bukan teoritis) yang digunakan untuk mengumpankan
cahaya ke serat optik akan mengakibatkan merambatnya ketiga macam sinar
tersebut didalam serat optik sekaligus juga memunculkan sinar-sinar dengan sudut
datang diluar kerucut penerimaan.
i.
Sinar
terpancung (skew ray) tidak pernah menyentuh sumbu (poros) serat optik ketika
merambat didalam inti.
ii.
Sinar
meridional memasuki inti dan memotong serat optik ketika pertama kali bergerak
menuju permukaan inti (bidang perbatasan inti-mantel).
iii.
Sinar
eksial adalah sebuah sinar khusus yang jalur rambatanya didalam inti tepat
berhimpit dengan garis poros serat optik dengan kata lain sinar eksial merambat
pada sumbu serat optik.
Tipe Kabel Fiber Optik
Berikut ini adalah beberapa tipe kabel fiber optik yang umum
digunakan :
1.
Tight
Buffer (Indoor/Outdoor)
2.
Breakout
Cable (Indoor/Outdoor)
3.
Aerial
Cable/Self-Supporting
4.
Hybrid
& Composite Cable
5.
Armored
Cable
6.
Low
Smoke Zero Halogen (LSZH)
7.
Simplex
cable
8.
Zipcord
cable
Variabel
|
Single-Mode
|
Multi-Mode
|
Besar
diameter core
|
5-10
mikrometer
|
50,
62.5 dan 100 mikrometer
|
Jenis
cahaya
|
Laser
infrared
|
LED
|
Banyak
pancaran cahaya
|
Satu
|
Beberapa
|
Jenis
pancaran cahaya
|
1319
dan 1510 Nanometer
|
850
dan 1300 nanometer
|
Jarak
pancaran cahaya
|
30-100
kilometer
|
500
meter - 2 Kilometer
|
Bandwidth
|
Up
to 10 Gbps
|
Up
to 1Gbps
|
Biaya
|
Cenderung
lebih mahal
|
Cenderung
lebih murah
|
JENIS
SUMBER CAHAYA PADA SERAT OPTIK
A. Light
Emitting Diode (LED)
Light Emitting Diode (LED) adalah suatu semikonduktor yang
memancarkan cahaya monokromatik yang tidak koheren ketika diberi tegangan maju.
Gejala ini termasuk bentuk elektroluminesensi. Warna yang dihasilkan bergantung
pada bahan semikonduktor yang dipakai dan bisa juga dekat ultraviolet, tampak
atau inframerah.
1. Prinsip
kerja LED
Di dalam LED terdapat sejumlah zat kimia yang akan
mengeluarkan cahaya jika elektron-elektron melewatinya. Dengan mengganti zat
kimia ini, kita dapat mengganti panjang gelombang cahaya yang dipancarkan,
seperti infrared, hijau/biru/merah dan ultraviolet.
2. Cara
kerja LED
Kita sudah tahu bahwa LED adalah dioda sehingga memiliki kutub
(polar). Arah arus konvensional hanya dapat mengalir dari anoda ke katoda. Dan
bagaimana kita dapat membedakan kutub-kutubnya ? Perhatikan bahwa 2 kawat (kaki)
pada LED memiliki panjang yang berbeda. Kawat yang panjang adalah anoda
sedangkan yang pendek adalah katoda. Ada cara lain lagi yaitu jika dilihat
dari atas, akan mengetahui ada sisi yang datar. Sisi yang datar itu adalah
katoda. Jika melihat ke dalamnya, kita dapat membedakannya berdasarkan bentuk
yang terlihat.
Dan bagaimana dengan LED bertipe surface mount (SMD) ?
Prinsip kerjanya masih sama, hanya bentuknya saja yang
berbeda. Ada beberapa cara yang berbeda untuk menandai kutub dari LED SMD, jadi
cara yang terbaik adalah mengecek pada datasheet.
Keuntungan
dari lampu LED :
a) Led
Lights tidak mengandung Mercury
b)
Jauh lebih hemat dalam hal pemakain listrik
c) Daya tahan lebih lama, yaitu
60x lebih lama dibanding dengan tipe lampu Incandescent dan 10x lebih lama
dibanding tipe Fluorescent
d) Lampu Led
Outdoor Lights juga tidak menghasilkan panas sehingga
dapat menghemat pemakaian AC (air conditioning)
Selain keuntungan dari LED
Display, tentu saja saja ada kerugiannya yaitu harga Led Outdoor atau Led
Indoornya jauh lebih mahal dibandingkan lampu biasa.
B. Injection
Laser Diode (ILD)
Sebuah perangkat semikonduktor solid state terdiri dari pada
satu P-N Junction mampu memancarkan koheren, dirangsang radiasi di bawah
syarat-syarat tertentu.
Sebuah dioda laser adalah laser dimana medium aktif
sebuah semikonduktor mirip dengan
yang ditemukan dalam dioda pemancar cahaya. Yang
paling umum dan praktis jenis dioda laser dibentuk dari P-N junction dan
didukung oleh menyuntikkan arus listrik.
Perangkat ini kadang-kadang disebut sebagai dioda laser injeksi untuk membedakan mereka dari (optis) dipompa dioda laser, yang lebih mudah diproduksi di laboratorium.
Perangkat ini kadang-kadang disebut sebagai dioda laser injeksi untuk membedakan mereka dari (optis) dipompa dioda laser, yang lebih mudah diproduksi di laboratorium.
Tipe ILD yang beroperasi berdasarkan prinsip laser, lebih
efisien dan dapat meneruskan data rate lebih besar. Ada kaitan antara panjang
gelombang yang digunakan, tipe transmisi dan data rate yang dikirimkan.
1. Jenis
– jenis Laser Diode (ILD)
Dioda laser yang sederhana struktur, yang dijelaskan di atas,
adalah sangat tidak efisien. Perangkat seperti itu membutuhkan begitu banyak
kekuatan yang mereka hanya bisa mencapai operasi berdenyut tanpa kerusakan.
Walaupun secara historis penting dan mudah untuk menjelaskan, perangkat
tersebut tidak praktis.
a. Double heterostructur laser
Dalam perangkat ini, lapisan rendah bandgap bahan
diapit dua lapisan bandgap tinggi. Satu umum digunakan pasangan bahan
baku gallium
arsenide (Gaas) dengan aluminium
gallium arsenide (Al x Ga (1-x) As).
Setiap persimpangan antara bahan bandgap yang berbeda disebut heterostructure, maka nama
“heterostructure ganda laser” atau DH laser. Jenis dioda
laser yang dijelaskan dalam bagian pertama dari artikel mungkin akan disebut
sebagai homojunction laser, untuk kontras dengan perangkat ini
lebih populer.
Keuntungan dari DH laser adalah bahwa wilayah di mana
elektron bebas dan lubang yang ada secara bersamaan daerah
aktif hanya terbatas pada lapisan menengah tipis. Ini
berarti bahwa banyak lebih dari pasangan elektron-lubang dapat berkontribusi
untuk penguatan tidak begitu banyak yang tertinggal di pinggiran memperkuat
buruk. Selain itu, cahaya ini tercermin dari heterojunction.
b. Quantum well laser
Jika lapisan tengah dibuat cukup tipis, ia bertindak sebagai well kuantum. Ini
berarti bahwa variasi vertikal elektron fungsi
gelombang dan dengan demikian komponen energi,
adalah quantised. Efisiensi sebuah sumur kuantum
laser lebih besar daripada laser massal
karena kepadatan elektron,
fungsi dalam sistem sumur kuantum memiliki tepi mendadak yang memusatkan energi
elektron dalam menyatakan bahwa berkontribusi pada tindakan laser. Laser
mengandung lebih dari satu lapisan sumur kuantum yang dikenal sebagai kuantum juga
beberapa laser. Beberapa sumur kuantum meningkatkan gain tumpang
tindih kawasan dengan optik Waveguide modus. Lebih
jauh perbaikan dalam efisiensi laser juga telah dibuktikan dengan mengurangi lapisan
sumur kuantum ke kawat kuantum atau
ke “laut” dari titik kuantum.
c. Quantum
cascade laser
Dalam laser
kaskade kuantum, perbedaan antara tingkat energi
dengan baik kuantum digunakan untuk transisi laser bukan bandgap. Hal ini memungkinkan
tindakan laser yang relatif panjang gelombang, yang
dapat disetel hanya dengan mengubah ketebalan lapisan. Mereka heterojunction
laser.
d. Distributed
feedback laser
Umpan
didistribusikan laser (DFB) adalah yang paling umum jenis pemancar di DWDM-sistem. Menstabilkan
lasing panjang gelombang, kisi difraksi yang tergores dekat dengan PN dari
dioda. Kisi-kisi ini bertindak seperti penyaring optik, menyebabkan panjang
gelombang tunggal untuk diberi makan kembali ke daerah dan memperoleh lase.
Karena kisi memberikan umpan balik yang diperlukan untuk lasing, refleksi dari
segi tidak diperlukan. Dengan demikian, setidaknya satu segi dari DFB
adalah dilapisi
anti-refleksi. The DFB laser memiliki panjang
gelombang yang stabil yang ditetapkan oleh manufaktur selama nada kisi-kisi dan
hanya dapat disetel sedikit dengan suhu. Seperti laser adalah pekerja keras
menuntut komunikasi optik.
e. VCSels
Vertical rongga permukaan memancarkan laser (VCSELs) memiliki rongga optik
sumbu sepanjang arah aliran arus dan bukan tegak lurus terhadap aliran arus
seperti pada dioda laser konvensional. Panjang daerah yang aktif sangat pendek
dibandingkan dengan dimensi lateral sehingga radiasi yang muncul dari permukaan
rongga bukan dari tepi. Para reflektor pada ujung rongga adalah cermin
dielektrik dibuat dari bolak tinggi dan rendah
indeks bias gelombang seperempat multilayer tebal.
Ada beberapa keuntungan untuk memproduksi VCSELs bila
dibandingkan dengan proses produksi tepi memancarkan laser. Ujung emitter tidak
dapat diuji sampai akhir proses produksi. Jika ujung emitor tidak bekerja,
apakah karena kontak buruk atau miskin kualitas pertumbuhan material, waktu
produksi dan pengolahan bahan-bahan yang telah sia-sia. Selain itu, karena
memancarkan sinar VCSELs tegak lurus terhadap daerah aktif dari laser sebagai
lawan sejajar dengan tepi sebagai emitor, puluhan ribu VCSELs dapat diproses
secara simultan pada tiga inci wafer gallium arsenide. Selain itu, meskipun
proses produksi VCSEL lebih banyak tenaga kerja dan materi intensif, hasil
dapat dikendalikan untuk hasil yang lebih dapat diprediksi.
f. VECSELs
Eksternal vertikal permukaan rongga memancarkan laser atau VECSELs, mirip
dengan VCSELs. Dalam VCSELs, cermin biasanya tumbuh epitaxially sebagai
bagian dari struktur dioda atau tumbuh secara terpisah dan terikat langsung berisi
semikonduktor daerah aktif. VECSELs dibedakan oleh konstruksi dimana salah satu
dari dua mirror yang berada di luar struktur dioda. Akibatnya, rongga mencakup
wilayah ruang bebas. Tipikal jarak dari dioda ke cermin eksternal akan menjadi
1 cm.
Salah satu fitur yang paling menarik dari setiap VECSEL
adalah ketebalan semikonduktor daerah di arah propagasi, kurang dari 100 nm.
Sebaliknya, sebuah pesawat konvensional dalam cahaya semikonduktor laser
mensyaratkan jarak propagasi lebih dari 250 μm ke atas sampai 2 mm atau lebih.
Arti penting dari jarak propagasi pendek adalah bahwa hal itu menyebabkan efek
“antiguiding” nonlinearities di daerah memperoleh dioda laser harus
diminimalkan. Hasilnya adalah besar penampang optik single-mode berkas yang
tidak dicapai dari dalam pesawat ( “ujung-memancarkan”) dioda laser.
Beberapa pekerja menunjukkan dipompa VECSELs optik, dan
mereka terus dikembangkan untuk banyak aplikasi termasuk sumber daya tinggi
untuk digunakan dalam industri permesinan (pemotongan, meninju, dll) karena
mereka sangat tinggi dan efisiensi daya ketika dipompa oleh multi-mode dioda
laser bar .
Aplikasi untuk dipompa listrik termasuk proyeksi VECSELs
menampilkan, dilayani oleh menggandakan
frekuensi yang hampir-IR emitter VECSEL untuk
menghasilkan cahaya biru dan hijau.
3. Sejarah Serat Optik
Penggunaan
cahaya sebagai pembawa informasi sebenarnya sudah banyak digunakan sejak zaman
dahulu, baru sekitar tahun 1930-an para ilmuwan Jerman mengawali eksperimen
untuk mentransmisikan cahaya melalui bahan yang bernama serat optik.
Percobaan
ini juga masih tergolong cukup primitif karena hasil yang dicapai tidak bisa
langsung dimanfaatkan, namun harus melalui perkembangan dan penyempurnaan lebih
lanjut lagi. Perkembangan selanjutnya adalah ketika para ilmuawan Inggris pada
tahun 1958 mengusulkan prototipe serat optik yang sampai sekarang dipakai yaitu
yang terdiri atas gelas inti yang dibungkus oleh gelas lainnya. Sekitar awal
tahun 1960-an perubahan fantastis terjadi di Asia yaitu ketika para ilmuwan
Jepang berhasil membuat jenis serat optik yang mampu mentransmisikan gambar.
Di lain
pihak para ilmuwan selain mencoba untuk memandu cahaya melewati gelas (serat
optik) namun juga mencoba untuk ”menjinakkan” cahaya. Kerja keras itupun
berhasil ketika sekitar 1959 laser ditemukan. Laser beroperasi pada daerah
frekuensi tampak sekitar 1014 Hertz-15 Hertz atau ratusan ribu kali frekuensi
gelombang mikro.
Seperti
halnya laser, serat optik pun harus melalui tahap-tahap pengembangan awal.
Sebagaimana medium transmisi cahaya, ia sangat tidak efisien. Hingga tahun 1968
atau berselang dua tahun setelah serat optik pertama kali diramalkan akan
menjadi pemandu cahaya, tingkat atenuasi (kehilangan)-nya masih 20 dB/km.
Melalui
pengembangan dalam teknologi material, serat optik mengalami pemurnian,
dehidran dan lain-lain. Secara perlahan tapi pasti atenuasinya mencapai tingkat
di bawah 1 dB/km. Tahun 80-an, bendera lomba industri serat optik benar-benar
sudah berkibar. Nama-nama besar di dunia pengembangan serat optik bermunculan.
Charles
K. Kao diakui dunia sebagai salah seorang perintis utama. Dari Jepang muncul
Yasuharu Suematsu. Raksasa-raksasa elektronik macam ITT atau STL jelas punya
banyak sekali peranan dalam mendalami riset-riset serat optik (Jhon Crisp, Barry Elliot, Erlangga, 2006, hlm 33-36).
4. Karakteristik Serat Optik
A. Ukuran kecil, diameter luar
serat optik berkisar antara 100-250 µm. Diameter maksimum setelah dilapisi/dibungkus dengan
plastik/nilon sebagai jaket menjadi ± 1 mm.
B. Ringan,
Dibandingkan dengan kabel transmisi biasa (Spesifigravity 9.8)
maka specifigravity bahan silica sebagai serat optik
yaitu 2.2, sehingga beratnya menjadi 1/2 – 1/3 berat kabel transmisi biasa.
C. Lentur. Pada
umumnya serat optik tidak akan patah biladilengkungkan dengan radius 5mm. Oleh
karenanya kabel serat optik mempunyai kelenturan yang sama dengan kabel
transmisi biasa, sehingga teknis pemasangannya tidak jauh berbeda dengan teknik
pemasangan kabel biasa.
D. Tidak berkarat. Bahan
silica sebagai bahan dasar serat optik mempunyai sifat kimia yang sangat stabil
oleh karenanya tidak mungkin berkarat.
E. Rugi-rugi rendah. Serat optik dengan bahan silica mempunyai rugi-rugi
transmisi rendah, besarnya berkisar 2-8 dB/km dengan panjang gelombang 830 nm.
Dibandingkan dengan kabel coaksial yang
mempunyai rugi-rugi transmisi sebesar 19 dB/km pada frekuensi 60 Mhz.
F. Kapasitas tinggi. Kapasitas
dalam menyalurkan informasi per cross section area
sangat besar disamping mempunyai bandwidth yang
lebar (Broadband). Sebagai contoh : kapasitas penyaluran
per cross section area 100x dibandingkan dengan
multi pair cable dan 10x dibandingkan dengan coaxial cable.
G. Bebas induksi. Serat optik
menggunakan bahan dasar silica yang pada dasarnya merupakan bahan dielektrik
yang sangat baik dan kebal terhadap induksi elektromagnet dan juga terhadap
kilat/petir.
1. Berkemampuan membawa lebih
banyak informasi dan mengantarkan informasi dengan lebih akurat dibandingkan
dengan kabel tembaga dan kabel coaxial.
2. Kabel serat optik mendukung
data rate yang lebih besar, jarak yang lebih jauh dibandingkan kabel coaxial
sehingga menjadikannya ideal untuk transmisi serial data digital.
3. Kebal terhadap segala jenis
interferensi, termasuk kilat, dan tidak bersifat mengantarkan listrik. Sehingga
tidak berpengaruh terhadap tegangan listrik, tidak seperti kabel tembaga yang
bisa lossing data karena pengaruh tegangan listrik.
4. Sebagai dasarnya seratnya
dibuat dari kaca, tidak dipengaruhi oleh korosi dan tidak berpengaruh pada zat kimia sehingga tidak akan rusak kecuali kimia pada
konsentrasi tertentu.
5. Karena yang dikirim adalah
signal cahaya, maka tidak ada kemungkinan ada percikan api bila serat atau
kabel tersebut putus. Selain itu juga tidak menyebabkan tegangan listrik dalam
proses perbaikannya bila ada kerusakan.
6. Kabel serat optik tidak
terpengaruh oleh cuaca.
7. Kabel serat optik walaupun
memiliki banyak serat pada satu kabel namun bila dibandingkan terhadap kabel
coaxial dan kabel tembaga akan lebih kecil dan lebih bercahaya bila diisi
dengan muatan informasi yang sama. Lebih mudah dalam penanganan dan
pemasangannya.
8. Kabel serat optik lebih aman
digunakan dalam sistem komunikasi, sebab lebih susah disadap namun mudah dimonitor.
Bila ada gangguan pada kabel, ada yang
menyadap sistem maka muatan informasi yang dikirim akan jauh berkurang sehingga
bisa cepat diketahui dan bisa cepat ditangani.
B. Kekurangan Serat Optik
1. Biaya yang mahal untuk
peralatannya.
2. Perlu konversi data listrik ke cahaya
dan sebaliknya yang rumit.
3. Perlu peralatan khusus dalam
prosedur pemakaian dan pemasangannya.
4. Untuk perbaikan yang kompleks
perlu tenaga yang ahli di bidang ini.
5. Selain merupakan keuntungan,
sifatnya yang tidak menghantarkan listrik juga merupakan kelemahannya, karena
musti memerlukan alat pembangkit listrik eksternal.
6. Bisa menyerap hidrogen yang
bisa menyebabkan loss data.
BAB 3
PENUTUP
1. Kesimpulan
Serat optik adalah salah satu media transmisi data yang memiliki
sedikit sekali kendala, itu dapat dibuktikan dengan sangat pesatnya perkembangan
penggunaan serat optik di dalam bidang telekomunikasi. Kabel fiber optik
dibedakan menjadi 3 jenis yaitu single mode step index, multi mode step index
dan multi mode grade index, dimana pada umumnya tipe multi mode biasanya
dipakai untuk jarak yang dekat, sementara single mode untuk jarak yang cukup
jauh. Serat optik sendiri sangat besar sekali kapasitas untuk transfer
datanya. Serat optik sangat cocok sekali dengan keadaan geografis di Indonesia
khususnya di Jawa, karena daerahnya tidak terlalu banyak yang curam.
2. Saran
Semoga dengan adanya transmiter serat optik ini kualitas
telekomunikasi di Indonesia lebih maju lagi dan lebih merata ke seluruh Indonesia.
Daftar Pustaka








Komentar
Posting Komentar